Advertise
TOTAL MEMBERS:
42.027
TOTAL FOBLOGS:
71.563
TOTAL FRIENDSHIPS:
165.286
Searching:
Create Blog

EVALUASI PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN PASAR SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINASIA DI DKI JAKARTA

Navigation: Foblog Online » Lihat Semua Foblog » Kontes-Blogging » Kontes Blogging 2011 » EVALUASI PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN PASAR SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINASIA DI DKI JAKARTA
Published on 24 February 2011 13:46 by Ir. Andi Saenab, MSiComment
Category: Kontes-Blogging » Kontes Blogging 20111649 Views 43855 Chars
Short URL: Print EVALUASI PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN PASAR SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINASIA DI DKI JAKARTA   PDF EVALUASI PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN PASAR SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINASIA DI DKI JAKARTA

EVALUASI PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN PASAR SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINASIA DI DKI JAKARTA


EVALUASI PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN PASAR

SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINASIA DI DKI JAKARTA

Ir. Andi Saenab, MSi

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta

Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian

 

 

    Ketersediaan hijauan pakan ternak merupakan permasalahan krusial di DKI Jakarta, tidak saja pada musim kemarau tetapi pada hampir sepanjang musim disebabkan faktor keterbatasan lahan. Di lain sisi, usaha peternakan ruminansia di DKI Jakarta tetap dilakukan oleh peternak yang pada umumnya merupakan usaha yang turun temurun dilakukan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan suatu inovasi untuk menghasilkan bahan pakan ternak dari bahanbahan yang tersedia di wilayah DKI Jakarta terutama bahan-bahan yang tidak bernilai ekonomis dengan tujuan untuk menekan biaya usahatani ternak. Salah satu komoditas yang sesuai untuk diolah menjadi bahan pakan ternak dengan jumlah yang melimpah di DKI Jakarta yaitu limbah sayuran pasar. DKI Jakarta merupakan wilayah terpadat penduduknya di Indonesia dengan kepadatan penduduk mencapai 13,7 ribu/km2 pada tahun 2007, sehingga menjadikan Provinsi ini sebagai pasar yang potensial bagi berbagai produk pertanian maupun produk peternakan. Setiap harinya penerimaan sayuran di DKI Jakarta dari berbagai daerah melalui Pasar Induk Kramat Jati mencapai ratusan ton. Begitupun dengan kebutuhan daging DKI Jakarta mencapai 300 ton per hari dan dapat meningkat hingga 500 ton menjelang hari raya Idul Fitri. Kebutuhan ternak sapi potong juga melonjak menjelang Hari Raya Idul Adha yang dapat mencapai 12.000 ekor pada tahun 2008 dan diprediksi terus meningkat setiap tahunnya. Dengan demikian, para peternak di DKI Jakarta banyak yang menekuni usaha penggemukan sapi potong, baik untuk memenuhi kebutuhan sapi potong harian maupun untuk keperluan hewan Qurban DKI Jakarta. Adapun potensi limbah sayuran pasar dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

 

Tabel 1. Potensi Limbah Sayuran Pasar

Komoditas

Sayuran

 

Jumlah Pasokan

(Ton/Minggu)

 

Perkiraan

Penyusutan

 

Potensi Limbah Sayuran

(Ton/Minggu)

 

Kol Bulat

757.5

20

151.5

 

Kembang Kol

29.5

25

5.9

 

Bawang Merah

805.25

12

161.05

 

Bawang Putih

216.25

4

43.25

 

Sawi

268.25

11

53.65

 

Buncis

9.75

3

1.95

 

Wortel

269.5

8

53.9

 

Tomat

574.5

10

114.9

 

Daun Bawang

86.75

6

17.35

 

Daun Sledri

38.25

6

7.65

Kelapa

133.25

8

26.65

Jagung

216.5

20

43.3

 

Tauge

41.75

15

8.35

 

Sumber : Data kantor Pasar Induk Kramat Jati Bulan Maret 2009

 

   Ternak ruminansia besar yang dipelihara di wilayah DKI Jakarta masih cukup banyak meskipun lahan untuk pemeliharaan semakin menyempit. Permasalahan spesifik DKI Jakarta dalam pengembangan usahatani ternak terutama ruminansia adalah ketersediaan hijauan pakan ternak karena factor keterbatasan lahan, sehingga diperlukan suatu inovasi untuk menghasilkan bahan pakan ternak dari bahan-bahan yang tersedia di wilayah DKI Jakarta terutama bahan-bahan yang tidak bernilai ekonomis dengan tujuan untuk menekan biaya usahatani ternak. Salah satu komoditas yang sesuai untuk diolah menjadi bahan pakan ternak dengan jumlah yang melimpah di DKI Jakarta yaitu limbah sayuran pasar.

 

   Limbah sayuran pasar merupakan sisasisa, hasil penyiangan, maupun bagian dari sayuran ataupun buahan yang tidak dimanfaatkan untuk konsumsi manusia. Limbah sayuran pasar di DKI Jakarta dapat mencapai 4.500 ton per hari, yang terdiri dari sayuran dan buahan. Pengolahan limbah sayuran untuk pakan alternatif ternak berpotensi untuk membantu menekan biaya pakan ternak yang umumnya dapat mencapai 70% dari seluruh biaya usahatani ternak, serta untuk membantu dalam penyediaan bahan pakan ternak dengan jumlah kebutuhan pakan ternak sapi per hari per ekor mencapai 10% dari bobot badan, sehingga untuk satu ekor sapi dengan bobot badan 200-300 kg membutuhkan 20-30 kg pakan.

 

BEBERAPA JENIS LIMBAH SAYURAN PASAR

   Ada beberapa jenis limbah sayuran pasar dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia diantaranya adalah bayam, kangkung, kubis, kecamba kacang hijau, daun kembang kol, kulit jagung, klobot jagung dan daun singkong. Adapun komposisi limbah sayuran tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

 

Tabel 2. Komposisi Beberapa Jenis Limbah Sayuran

Jenis sayuran

Bahan

kering

(g)

Kalori

Protein

(g)

Lemak

(g)

Serat

(g)

Kapur

(mg)

Besi

(mg)

Abu

(%)

Karbohidrat

(g)

Air

(g)

Bayam 2

15.2

43

5.2

-

1.0

340

4.1

-

6.5

86.9

Kangkung 2

10.0

30

2.7

-

1.1

60

2.5

-

-

-

Kubis 2

7.0

22

1.6

-

0.8 

55

0.8

-

-

-

Sawi putih 2

5.8

17

1.7

-

0.7

100

2.6

-

-

-

Kecambah kacang hijau2

-

23

2.9

0.2

-

-

-

-

4.1

92.4

Daun kangkung 3

23.8

-

8.93

1.03

3.19

-

-

1.82

-

-

Daun Singkong 1

-

-

-

-

-

-

-

1.77

-

-

Daun kembang

kol

-

3890

31,77

*

13,77

-

-

19,93

-

-

Kulit Jagung

-

4351

1,94

*

34,15

-

-

2,97

-

-

Sumber : Fapet IPB1 Mansy (2002) 2 Oomen, H. A. P. C., dkk (1984) dalam Redaksi Trubus (1999) 3

   Limbah sayuran pasar yang dominan ada di pasar antara lain kol, caisim, daun kembang kol, kulit toge, serta sawi putih. Sedangkan kulit jagung sudah banyak dipergunakan sebagai pakan langsung (tanpa proses pengolahan) oleh beberapa peternak kambing maupun sapi di DKI Jakarta.

 

Limbah Sawi

Jenis limbah sawi yang banyak di pasaran yaitu limbah sawi hijau/caisim dan sawi putih. Sawi memiliki kadar air yang cukup tinggi, mencapai lebih dari 95%, sehingga umumnya sawi cenderung lebih mudah untuk diolah menjadi asinan. Jika akan diolah menjadi silase, terlebih dahulu sawi harus dilayukan/dijemur atau dikering-anginkan untuk mengurangi kadar airnya. Nilai energi dan protein kedua jenis sawi ini setelah ditepungkan hampir sama, berada pada kisaran 3200-3400 kcal/kg dan 25-32 g/100g.

 

Limbah Kol

Limbah kol yang didapatkan di pasar, merupakan bagian kol hasil penyiangan. Limbah kol di Pasar Induk Kramat Jati, dapat mencapai 17,2% dari total jumlah kol yang masuk setiap hari. Kol juga termasuk sayuran dengan kadar air tinggi (> 90%) sehingga mudah mengalami pembusukan/kerusakan.

 

Limbah Kulit Kecambah Toge

   Kulit kecambah toge pada umumnya menjadi limbah di pasar-pasar tradisional. Belum banyak orang yang memanfaatkan kulit kecambah toge, hanya sebagian kecil orang yang memanfaatkan kulit kecambah toge untuk campuran pakan itik. Dari berbagai jenis limbah organik pasar yang pernah digunakan dalam pengkajian tepung limbah organik pasar, kulit toge merupakan jenis limbah yang paling

berpotensi untuk dibuat menjadi tepung limbah. Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari hanya membutuhkan waktu rata-rata 2 hari, dengan kadar air 65-70%. Dari hasil analisa, tepung kulit kecambah toge dapat menjadi salah satu pakan sumber energi, dengan kandungan energi metabolis sebesar 3737 kcal/kg.

 

Limbah Daun Kembang Kol

   Daun kembang kol merupakan bagian sayuran yang umumnya tidak dimanfaatkan untuk konsumsi manusia. Meski demikian, hasil analisa menunjukkan bahwa tepung daun kembang kol mempunyai kadar protein yang cukup tinggi, yaitu 25,18 g/100g dan kandungan energi metabolis sebesar 3523 kcal/kg.

 

Limbah Jagung

   Limbah pasar yang berasal dari jagung ada dua macam, kulit jagung dan tongkol jagung/janggel. Kulit jagung manis mempunyai kadar gula yang cukup tinggi, sehingga berpotensi untuk dijadikan silase. Sedangkan tongkol jagung/janggel merupakan bagian dari buah jagung setelah bijinya dipipil. Limbah jagung pada umumnya mempunyai kelemahan kadar protein yang cenderung rendah serta serat kasar yang cenderung tinggi. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, limbah jagung sesuai untuk diolah menjadi silase. Kualitas tepung limbah sayuran pasar dibandingkan dengan kualitas beberapa jenis pakan hijauan ternak ruminansia, secara umum mempunyai nilai yang lebih tinggi. Komposisi kimia beberapa jenis hijauan pakan ternak ruminansia dapat dilihat pada Tabel 3.

 

Tabel 3. Komposisi kimia (%) alang-alang, kolonjono, rumput benggala, jerami padi, rumput lapang, dan rumput gajah

Komponen

Alangalang

Kolonjono

Rumput

benggala

Jerami

padi

Rumput

lapang

Rumput

gajah

Bahan kering

93,00

91,60

92,20

90,26

94,29

91,48

Bahan organik

90,00

88,57

89,70

87,95

91,67

88,22

Protein kasar

9,60

6,82

5,67

3,55

5,80

10,07

Serat kasar

38,28

31,24

28,44

33,11

41,82

35,57

Lemak kasar

1,8

1,63

2,82

1,49

1,26

3,55

Abu

11,90

16,13

14,77

21,18

7,36

18,84

BETN

38,54

44,19

48,30

40,67

43,74

31,97

Kalsium

0,38

0,35

0,48

0,37

2,01

1,12

Phosphor

0,43

0,87

0,81

0,76

0,92

0,45

Sumber: Harfiah, 2005

 

PENGOLAHAN LIMBAH SAYURAN PASAR

   Limbah sayuran pasar berpotensi sebagai bahan pakan ternak, akan tetapi limbah tersebut sebagian besar mempunyai kecenderungan mudah mengalami pembusukan dan kerusakan, sehingga perlu dilakukan pengolahan untuk memperpanjang masa simpan serta untuk menekan efek anti nutrisi yang umumnya berupa alkaloid. Dengan teknologi pakan, limbah sayuran dapat diolah menjadi tepung, silase, maupun asinan, yang dapat digunakan sebagai pakan ternak. Bahkan ada teknologi pakan yang lebih canggi lagi yaitu dalam bentuk wafer dan biscuit pakan. Manfaat dari teknologi pakan antara lain dapat meningkatkan kualitas nutrisi limbah sebagai pakan, serta dapat disimpan dalam kurun waktu yang cukup lama sebagai cadangan pakan ternak saat kondisi sulit mendapatkan pakan hijauan.

 

Tepung Limbah Sayuran Pasar

   Pengolahan limbah sayuran menjadi tepung merupakan salah satu upaya untuk memperpanjang masa simpan, dimana kandungan kadar airnya rendah sehingga aktivitas air (Aw) yaitu jumlah air bebas yang dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme sedikit jumlahnya. Hampir semua jenis limbah sayuran dapat diolah menjadi tepung. Proses pembuatan tepung limbah sayuran pasar untuk pakan ternak, dapat dilakukan dengan tahapan berikut.

1. Pemilahan, pemisahan, dan pembersihan limbah sayuran pasar.

2. Pencacahan dan pengepresan.

limbah organik pasar terutama yang mempunyai kadar air tinggi (>70%) seperti kol, caisim, dan sawi putih terlebih dahulu dicacah dan dipres dengan menggunakan mesin pencacah dan pengepres untuk membantu mengurangi kadar airnya, sehingga mempercepat proses pengeringan. Akan tetapi apabila proses pengeringan terhambat, limbah sayuran yang sudah melalui proses pencacahan dan pengepresan umumnya akan lebih mudah mengalami proses pembusukan.

3. Pengeringan. Pengeringan limbah sayuran dapat dilakukan dengan menggunakan sinar matahari, mesin pengering (dryer), maupun dengan menggunakan oven pada suhu 65oC hingga kadar airnya menjadi 10%. Lama pengeringan limbah sayuran pasar dengan kadar air yang tinggi dapat mencapai 2-5 hari.

4. Penepungan. Limbah sayuran pasar yang sudah kering kemudian digiling menjadi tepung hingga lolos saringan 100 mesh, dan siap digunakan sebagai bahan pakan.

 

Silase Limbah Sayuran Pasar

   Pengolahan bahan pakan menjadi silase bertujuan untuk memperpanjang masa simpan pakan. Silase merupakan bahan pakan dari hijauan pakan ternak maupun limbah pertanian yang diawetkan melalui proses fermentasi anaerob dengan kandungan air 60-70%. Kadar air bahan yang akan diolah menjadi silase tidak boleh terlalu rendah maupun terlalu tinggi. Untuk bahan-bahan yang memiliki kadar air cukup tinggi (> 80%), perlu dilakukan pelayuan, penjemuran atau dikeringanginkan terlebih dahulu sebelum proses pembuatan silase dimulai untuk menurunkan kadar airnya. Proses pembuatan silase pada limbah sayuran pasar antara lain sebagai berikut.

1. Pemilahan, pemisahan, dan pembersihan limbah sayuran pasar, serta penjemuran beberapa waktu untuk bahan yang berkadar air tinggi.

2. Pencampuran bahan-bahan aditif berupa 0,625 kg dedak + 0,625 kg molases + 0,5 cc Probiotik, dan diaduk sampai merata, untuk ditaburkan secara merata selapis demi selapis. Bahan aditif yang ditambahkan berfungsi untuk meningkatkan kadar protein atau karbohidrat pada material pakan.

 

3. Sebanyak 25 kg biomassa limbah organic pasar dicacah/dipotong-potong dengan ukuran 3-4 cm, dan dimasukkan ke dalam drum/silo yang telah dilapisi plastik sedikit demi sedikit diikuti dengan penaburan bahan campuran dan pemadatan (sambil diinjak-injak) agar tidak ada lagi udara diantara tumpukan bahan silase, lalu ditutup rapat.

4. Drum/silo ditempatkan di tempat yang sejuk untuk proses fermentasi selama 3-4 minggu.

5. Setelah 3-4 minggu silase telah jadi dan dapat dikeluarkan dari drum/silo untuk diberikan pada ternak. Sebelum diberikan pada ternak perlu diangin-anginkan atau dibiarkan terlebih dahulu selama beberapa jam.

 

Silase yang berkualitas baik memenuhi persyaratan antara lain mempunyai pH sekitar 4, kandungan air berkisar antara 60-70%, berbau segar dan tidak berbau busuk, warna hijau masih jelas pada bahan hijauan, tidak berlendir, serta tidak berbau tengik. Silase dapat disimpan untuk jangka waktu lama selama tidak ada udara yang masuk ke dalam silo.

6. Asinan Limbah Sayuran Pasar

Limbah sayuran pasar yang umumnya digunakan untuk membuat asinan adalah sayuran berupa caisim, kol, serta sayuran daun lainnya. Pemberian limbah sayuran pasar dalam bentuk asinan bertujuan untuk meningkatkan nafsu makan pada ternak serta kandungan bakteri penghasil asam laktat berfungsi untuk membantu pencernaan. Proses pembuatan asinan limbah limbah pasar pada prinsipnya merupakan proses fermentasi anaerob dengan menggunakan bakteri penghasil asam laktat. Sayuran yang telah diberi garam, dimasukan ke dalam gentong dan difermentasi dengan menggunakan bakteri lactobacillus secara anaerob.

7. Wafer Pakan Komplit

Wafer merupakan suatu bahan yang mempunyai dimensi (panjang, lebar, dan tinggi) dengan komposisi terdiri dari beberapa serat yang sama atau seragam (ASAE, 1994). Wafer pakan sumber serat yang berasal dari limbah sayuran pasar tradisional merupakan pakan alternative untuk mengganti hijauan pakan pada saat musim kemarau. Bentuk pakan tersebut dibuat dengan memanfaatkan limbah sayuran pasar, sehingga harganya murah. Wafer pakan dibuat dengan menggunakan teknik pengepresan dengan mesin kempa dengan bantuan panas dan tekanan. Komposisi zat makanan dibuat menyerupai komposisi hijauan pakan sehingga diharapkan dapat disukai ternak (palatabel) sehingga dapat diberikan dengan maksimal dan dapat mengatasi kelangkaan hijauan pada musim kemarau. Bentuk, ukuran dan warna wafer limbah sayuran yang telah dibuat dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta, 2008, Jakarta dalam angka 2008, BPS Provinsi DKI

Jakarta, Jakarta.

Harfiah. 2005. Penentuan nilai indek beberapa pakan hijauan ternak domba. Jurnal Sains & Teknologi,

Desember 2005 Vol 5, 3:114–125.

Kartasudjana, R., 2001. Mengawetkan hijauan pakan ternak. Modul program keahlian budidaya ternak.

Departemen Pendidikan Nasional. 2001

Melyani, V., 2009, Kebutuhan daging sapi di Jakarta naik lima kali lipat,

http://www.tempointeraktif.com/hg/serba_serbi_09/2009/09/17/brk,20090917-198626,id.html

Tangendjaja, B. dan Elizabeth Wina. 2008. Limbah tanaman dan produk samping industri jagung untuk

pakan. Diakses Juli 2009



Kata Kunci:



Dapatkan informasi terbaru dan menarik melalui media sosial PsikoMedia

PsikoMedia on Facebook:

 
PsikoMedia on Twitter:

 

 
  

Baca Juga
Foblog Psikologi :Foblog Lain-lain :


Facebook Comments





Kirim Komentar


Login first to leave a comment.
Signup here or Login here
PsikoMedia © 2008-2014 ® All Rights Reserved